Ketemu “Raja” tak Manja

Teks foto: Belakangan, pedagang kacang goreng, Raja menjadi pusat perhatian warga Rantau Prapat. (jib)

Oleh: Najib Gunawan

KALAU sudah ngomongin Raja. Siapa sih yang tak ingin seperti dia. Apa-apa tinggal perintah Abdi Dalem (Orang yang mengabdi pada Raja). Tetapi Raja yang kali ini beda! Dia tak manja, apalagi bisa memerintah. Malahan dia tak jarang bagai peminta-minta yang penting usahanya tidak cuma-cuma.

Sebernanya saya tidak terlalu tertarik untuk menulis kisahnya karena Raja yang ini sudah lumayan cukup di kenal di kalangan pengguna media sosial. Tetapi niat itu saya urungkan meski obrolan sudah berlalu beberapa hari belakangan.

Tak apalah, saya ambil pembelajaran dari Raja yang tak manja ini karena bisa menjadi contoh buat pribadi. Raja ini ditempah untuk hidup apa adanya dengan segala kekurangan, tetapi tak lelah untuk berjuang di tengah himpitan ekonomi.

Meski Raja, dia terlahir tak lepas dari belenggu kesusahan. Raja yang tak pernah mengenal media sosial layaknya generasi milenial kekinian. Jangankan facebook, instagram, twitter, e-mail, atau malahan sejenis sarana media komunikasi lainnya. Wong gadget saja tak punya.

Teks foto: Raja (berbaju kaos merah putih) saat menjajakan dagangannya di salah satu gerai kuliner di Kota Rantau Prapat. (jib) 

Aneh ya! Raja kok kere. Bisa jadi pun dia tak pernah punya permaisuri layaknya Raja kebayakan yang memiliki tahta dan harta. Raja kok tidak tidak dari garis keturunan darah biru.

Walau serba kekurangan. Tetapi dia mampu menyelesaikan masalah perekonomian hidupnya dan keluarganya. Dia berjuang dengan ikhlas demi masa depannya yang belum tahu apakah cemerlang di hari esok.

Yang dia tahu, dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa bangkit kelak dengan kedua tangan dan kakinya sendiri tanpa malu menghadapi rintangan. Yang dia tahu waktunya habis tak sia-sia demi masa depan.

“Raja kacang goreng” kalau seperti ini. Bagaimana tidak! Raja kok tidak punya kekuatan selain semangat perjuangan demi kebutuhan sejengkal perut agar periok ibunya yang seorang janda tidak tumbang.

Walau demikian, sebagai penulis yang semula mengurungkan niat untuk merangkai kata per kata untuknya, saya harus angkat topi buat Raja yang satu ini. Dia tak kenal lelah menyusuri setiap sudut Kota Rantau Prapat, Kabupaten Labuhanbatu sejak sore hingga jam mendekati tengah malam untuk setiap recehan.

Raja yang polos. Kalaupun kita temukan Raja yang serba hidup berkecukupan. Sudah biasa! Kali ini Rajanya serba kekurangan. Raja yang benar-benar ditempah harus mampu menyelesaikan masalahnya dan keluarganya.

Raja yang dari usia remaja harus banting tulang menjajakan kacang goreng dari setiap sudut kota kecilku. Raja yang telapak tangannya kasar karena getirnya kehidupan terlahir dari serba kekurangan.

Walau sejak duduk di bangku MTs kelas dua dia harus menjajakan olahan kacang dan telur puyuh ibunya. Dia tak mengenal kata “malu”. Kini “Raja Kecil” ini menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas ternama di Labuhanbatu.

Fakultas yang ia tekuni untuk bisa menjadi “Raja Besar” pun tak tanggung-tanggung. Manajemen Ekonomi coy! Mau jadi ekonom sepertinya Raja Kecil ini. Ohh ya.. Yang membuat saya angkat topi, biaya kuliahnya gratis woy! Beasiswa dari pejabat berpengaruh di Provinsi Sumatera Utara.

Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah, yang membiayai pendidikannya! Bangga gak kita tuh. Jangankan ibunya yang seorang janda, saya sebagai penulisnya saja harus beri dia lima jempol andai Tuhan memberi saya bonus di luar kedua jempol tangan dan dua jempol kaki.

Apalagi pribadi dan tutur bahasanya. Sangat-sangat santun. Bagaimana tidak. Wong Raja Kecil ini saban hari harus mampu menyakinkan calon pembeli kacang goreng buatan ibunya. Jangan-jangan Raja Kecil ini tidak bisa mengendarai sepeda motor. Sebab tiap harinya dia diantar jemput oleh ibunya sesuai janji dimana ia harus diantar dan dimana ia harus dijemput usai menjajakan dagangannya.

Kalau soal ketampanan. Pastinya cewek-cewek kekinian bakal berebut supaya bisa menggaet hatinya. Namanya juga Raja, sudah pasti tampanlah. Tetapi, sekali lagi saya harus angkat topi sebab ketampanannya dimanfaatkan buat sebanyak-banyaknya mendapat rezeki meski recehan dari hasil jajakan kacang goreng.

Apalagi pribadinya. Sopan banget coy! Bakalan gak nyesel lah ngobrol dengannya. Yang pastinya dia bukan generasi micin lah pokoknya seperti kebanyakan remaja saat ini.

Ohh ya.. Saya kebetulan ketemu di salah satu gerai kuliner di kota kecil itu. “Ehh.. Ada pedagang kacang goreng yang lagi viral,” celetuk sebelah meja tempat makan malam kalau itu. Perhatian saya pun tertuju pada suara lantang itu sambil menoleh kanan dan kiri mencari tahu siapa yang sebelah meja itu sebutkan.

Benar saja, giliran Raja Kecil ini menghampiri meja saya, kesempatan pun tak saya sia-siakan sekedar bertanya mendalami sisi kehidupannya. Ternyata benar, dia pedagang kacang goreng yang luar biasa meski hidup diterpa derita ekonomi.

Beruntung saya sebagai penulis bisa mengupas sisi positif kehidupannya. Sayang, obrolan hanya kira-kira lima menitan. Tetapi tak masalah, meski singkat bincangnya tetapi dalam maknanya. Dia bagai guru baru buat saya tentang apa dan untuk apa kita hidup di dunia ini dengan segala keterbatasan.

Yang saya dapatkan wejangan hidup dari perbuatannya, kita hidup tak boleh manja dan berpangku tangan dengan orang lain. Pesannya pun sangat menyentuh buat saya sebagai orang yang usianya jauh dewasa ketimbang dia. “Tangan di atas lebih baik dari pada di bawah,” luar biasa bibir polosnya berbicara.

Hadeuh.. Hampir kelupaan. Namanya, Raja Parinsal Jailani Nasution. Biasa dipanggil Ijek. Pastinya warga netizen Labuhanbatu tak asing lagi dengan sosoknya. Apalagi perjuangan hidupnya menjadi pedagang kacang goreng. Wong sempat viral di media sosial.

 

2,867 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini