‘Tilik’ Sekolah Satap di Perbatasan Paluta-Labura

Teks foto: Kepala SMPN 4 Satap Bilah Barat, Dahniar Nasution tengah menuju sekolahnya di Desa Sibargot, perbatasan Kabupaten Paluta dan Labura. (jib)

LABUHANBATU – Sekolah Satu Atap (Satap) memang kerab berada di daerah terpencil. Dalam satu hamparan, Satap merupakan sekolah yang terintegrasi antara SD dan SMP untuk  memudahkan masyarakat  mendapatkan layanan pendidikan dasar dan menengah.

Di Kabupaten Labuhanbatu, dari sekian Satap, IKABINA.COM mencoba menilik SMPN 4 Bilah Barat, tepat di Desa Sibargot. Sekolah ini diapit Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) dan Padang Lawas Utara (Paluta). Butuh waktu kurang lebih satu jam bagi Dahniar, saban hari untuk menempuh sekolahnya ini.

Sebab, Kepala SMPN 4 Satap Bilah Barat ini tinggal di Jalan Karya Aek Tapa B, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Rantau Selatan. Dahniar pun harus sabar melawan risiko berkendaraan di jalanan dengan sepeda motor kesayangannya.

Usai salat subuh, Dahniar mulai memanaskan tunggangannya, menuju sekolah menyusuri Jalan Kota Sigambal, lalu Desa Lingga Tiga-Desa Bandar Tinggi Hatiran-Aek Kundur-Hutaembaru-Pulo Liman-Aek Simanat-Padang Malaka, barulah masuk Desa Sibargot.

Teka foto; Kepala SMPN 4 Satap Bilah Barat, Dahniar Nasution, tengah memantau pelaksanaan Simulasi UNBK di sekolahnya, Selasa (3/3/2020). (jib) 

Di Satap SMPN 4 Bilah Barat ini juga berdiri SDN 112159. Tenaga pendidik di SMPN 4 Satap Bilah Barat tidaklah pula banyak, hanya 15 orang guru diantaranya tiga yang berstatus ASN. Sisanya hanya tenaga pendidik honorer.

Namun, para guru berhati tulus ini tak hanya memberikan materi mata pelajaran semata. Mulai dari moral, akhlak, rasa sosial, dan rasa mencintai NKRI mereka tuangkan kepada 111 siswa-siswinya.

Kini, 36 siswa-siswi kelas 9 tengah disibukkan dengan pelaksanaan Simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mengahadapi Ujian Nasional (UN) yang akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang.

UNBK juga disebut Computer Based Test (CBT), yakni sebuah sistem pelaksanaan UN dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem UN berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang telah dilakukan beberapa tahun silam.

“Kami memang belum banyak berprestasi di kabupaten, tetapi kami selalu mengikuti setiap kegiatan. Yang penting usaha dan upaya meraih prestasi adalah semangat kami dengan terus belajar dan berlatih,” ucap Kepala SMPN 4 Satap Bilah Barat, Dahniar mengawali perbincangan dengan IKABINA.COM, Selasa (3/3/2020).

Sekolah ini berdiri sejak tahun 2012 silam. Bisa dibayangkan dengan tenaga pendidik yang hanya didominasi tenaga honorer mereka harus tetap memberikan pelayanan pendidikan kepada ratusan siswanya.

Tidak ada fasilitas mewah, semewah sekolah pada umumnya di ibukota kabupaten di SMPN 4 Bilah Barat ini. Tetapi, sekolah ini mampu melaksanakan Simulasi UNBK berbasis komputer. “Kalau sudah keharusan, apapun kita lakukan. Yang penting anak-anak bisa ikutan Simulasi UNBK,” tegas Dahniar.

Dahniar menegaskan, sekolahnya memang berada di kampung, tetapi mereka berusaha agar anak-anaknya tidak kampungan. “Kalau sudah mencintai tidak ada yang bisa membatasi Mas. Justru ini nikmat bagi kami selalu guri-guru bisa mendidik anak-anak di desa perbatasan,” tutup Dahniar.

Editor: Najib Gunawan

 3,254 total views,  4 views today