Dua Paslon Tolak Debat Kandidat di Medan?

LABUHANBATU – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Labuhanbatu akan kembali menggelar debat publik kandidat Pilkada 2020 putaran kedua akhir November mendatang. Informasi yang beredar, jika debat kembali digelar di Medan, dua paslon tidak akan hadir.

Sebab, paslon yang menolak itu mengkhawatirkan risiko yang kapan saja bisa terjadi, misalnya kecelakaan atau kelelahan apalagi pencoblosan akan dilaksanakan 9 Desember sehingga banyak menyita waktu dan konsentrasi kandidat dalam pemenangan Pilkada.

“Kandidat kami memastikan tidak hadir apabila debat kembali digelar di Medan. Risikonya terlalu tinggi, Rantauprapat-Medan lumayan melelahkan, belum lagi risiko kecelakaan. Tidak efisien lah kalau ujungnya live melalui stasiun televisi tidak bisa disaksikan masyarakat,” tegas sumber yang layak dipercaya dari salah satu tim pemenangan Paslon kepada ikabina.com saat berbincang, Rabu (18/11/2020).

Bahkan, narasumber yang tidak mau disebutkan namanya itu juga mendapat informasi salah satu paslon lain juga akan melakukan hal serupa. “Calon lain juga sudah memastikan seperti itu kepada kita. Sebab kalau masyarakat hanya bisa menyaksikan debat melalui akun resmi KPU Labuhanbatu buat apa jauh-jauh ke Medan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua KPU Labuhanbatu, Wahyudi, ketika dikonfirmasi, Rabu (17/11/2020), mengatakan, pihaknya masih membahas jadwal dan tempat serta kerjasama dengan media. “Rencananya (debat putaran kedua, red) tanggal 29 November, tetapi tempat belum diputuskan termasuk kerjasama dengan media juga belum diputuskan. Masih rencana,” katanya.

Disinggung mengenai desakan masyarakat agar debat dilaksanakan di Rantauprapat bila tidak bisa disaksikan secara live melalui televisi, Wahyudi mengaku pihaknya juga tengah mengkaji hal itu.

Namun demikian, sambungnya, walaupun di Labuhanbatu tidak dapat di ikuti secara langsung di acara debat, tetapi dari evaluasi pihaknya pada beberapa debat kabupaten lain, Debat Publik Pilkada yang diselenggarakan KPU Labuhanbatu masih lebih baik dari daerah lain.

“Artinya cukup profesional Event Organizer (EO) dan lainnya. Kami akui masyarakat pada debat lalu  hanya bisa melihat secara daring, tetapi yang boleh datang di acara debat cuma 6 orang per paslon tanpa pendukungnya. Makanya  masih kami evaluasi dan ada beberapa catatan agar tampilan lebih baik lagi,” sebutnya.

Editor: Najib Gunawan

10,944 kali dilihat, 18 kali dilihat hari ini